Selasa, 29 Oktober 2013

Apa Itu Aurora??


Aurora adalah cahaya warna-warni yang menari-nari di udara. Itu biasanya terjadi di kutub bumi,jauh di ujung dunia (di Indonesia belum pernah ada). Kalian tau asal-usul aurora seperti apa?? Nah, sekarang bacalah cerita berikut…
Dulu, tinggalah satu keluarga yang miskin diantara mereka. Tidak, mereka tidak miskin. Disana mengukur kekayaan bukan dengan uang, barang-barang mewah, rumah mewah, atau semacam benda mewah lainnya. Tapi miskin atau kaya amat ditentukan dengan kepemilikan api. Api untuk menghangatkan diri di malam hari. Api yang memberikan udara hangat dan nyaman. Keluarga itu tidak memilikinya. Hanya orang-orang dan golongan tertentu yang diijinkan dan menguasai api. Keluarga itu tidak punya api. Itu sudah aturan main turun temurun.
Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan seorang gadis kecil berumur 6 tahun. Wajahnya bulat penuh cahaya kebaikan. Perangainya santun penuh sifat mempesona. Gadis kecil itu rajin membantu ibunya. Benar-benar anak yang bias diandalkan.
Setiap kepala keluarga di perkampungan salju itu bekerja sebagai pemburu. Maka itulah pekerjaan sang ayah; berburu rusa, berburu binatang salju, ikan, apa saja yang bias dimakan. Sedangkan ibu bertugas menjaga rumah, memasak binatang hasil tangkapan suaminya, menyamak kulit, membuat pakaian-pakaian tebal.
Hingga suatu ketika, tibalah masa-masa sulit itu. Selama enam bulan badai musim dingin terus mengungkung perkampungan. Padahal, lazimnya hanya tiga-empat bulan saja. Membuat sulit kehidupan. Benar-benar membuat semuanya sulit. Tidak ada lagi rusa di hutan dekat perkampungan. Danau yang biasanya bias digunakan untuk mencari ikan sempurna membeku. Persediaan makanan musim panas sudah menipis. Seluruh perkampungan menghadapi masalah serius.
Dan lebih serius lagi, bagi keluarga miskin itu. Tidak ada makan, tidak ada api, itu sama saja malam-malam mereka harus dilalui dengn penderitaan. Malam-malam lebih terasa panjang. Menggigil kedinginan. Tapi gadis kecil itu tidak pernah mengeluh. Meski gelap, meski dingin, ia menyibukkan diri bersenandung. Menatap langit gelap tertutup badai lewat jendela iglo.
Bertanya banyak hal pada ayah-ibunya. Tentang mengapa malam tidak terasa hangat seperti siang. Mengapa malam tidak ada cahaya yang memesona seperti matahari. Mengapa dunia tidak siang saja selamanya. Biar mereka tidak kedinginan, biar mereka tidak perlu peduli lagi dengan nyala api. Perut gadis kecil itu lapar. Tapi, ia tidak ingin membebani ayah-ibunya dengan keluh kesah. Hanya bertanya, sambil bersenandung riang.
Gadis kecil itu bias bersabar dengan situasi buruk itu… meski ia tidak pernah kunjung mengerti mengapa igloo lainnya terlihat terang dengan cahaya api, sedangkan igloo mereka tidak. Dulu ia suka bertanya hal itu, tapi ayahnya hanya bilang soal siapa yang berhak, siapa yang tidak. Ayahnya malah menjawab itu amat dilarang. Entahlah. Membuatnya takut bertanya lagi. Takut karena katanya bakal mucul nga raksasa yang mengamuk membakar seluruh pedesaan jika ada yang berani tanya-tanya soal aturan main itu.
Di bulan kesepuluh sejak badai salju mengungkung pedesaan, ayahnya yang pergi  berburu suatu hari tidak pernah kembali. Ditunggu semalaman, tidak juga pulang-pulang. Seminggu. Sama saja. Sebulan. Tetap begitu. Maka serunai kesedihan mulai menguar dari igloo mereka.
Gadis kecil itu menunggu senyap di depan jendela setiap malam. Siapa tahu ayahnya membawa ikan-ikan besar. Tidak ada. Sama sekali tidak ada kabar tentang ayahnya, kecuali berita kalau ayahnya terlalu berani berburu, pergi hingga batas hutan yang banyak beruangnya.
Tapi ia tidak ingin rasa sedihnya menambah kesedihan ibunya. Lihatlah, ibunya yang sedang hamil tua terbaring lemah di atas ranjang. Sebulan terakhir jatuh sakit. Membuat semakin sulit situasi. Ibunya tidak bias melakukan apa pun, bergerak aja susah. Maka gadis kecil itu mulai mengambil alih pekerjaan rumah. Menyelimuti ibunya di setiap malam menggigil. Membersihkan salju yang menumpuk di depan pintu. Memetik dedaunan yang tersisa. Memandang sedih perut buncit ibunya yang mengandung adik yang selalu diharapkanya.
Hingga suatu malam, demam ibunya tidak kunjung turun. Gadis kecil itu memutuskan untuk meminta pertolongan. Pergi ke igloo lainnya yang terlihat bercahaya. Ia ingin meminta nyala api. Ia ingin ibunya hangat malam ini. Tapi ia terima. Ada yang berhak. Ada yang tidak. Gadis kecil itu tidak pernah paham mengapa dunia harus tercipta perbedaan. Ia hanya butuh nyala api kecil, untuk membuat ibunya hangat. Sesederhana itu, tidak-lebih, tidak-kurang.
Malam itu, gadis kecil kita tertatih-tatih berlari dari satu iglo ke iglo lainnya, di tengah badai salju yang menggila, tubuhnya kuyup, kakinya gemetar melewati tumpukan salju hingga paha. Benar-benar percuma, tidak ada yang peduli. Meski ada yang bersimpati, tapi keluarga itu terlalu takut untuk melanggar aturan.
Menjelang tengah malam, gadis kecil kita sambil menangis kembali. Tidak ada. Benar-benar tidak ada nyala api untuk ibunya. Malam ini ia akan melihat lagi pemandangan menyedihkan tersebut. Suara gemeletuk gigi ibunya, tubuh yang menggigil… Gadis kecil itu menangis, bergerak mendekat ingin memperbaiki selimut ibunya yang tersingkap.
Tapi ia keliru. Sungguh keliru! Tidak ada gemeletuk gigi itu lagi. Tidak ada tubuh yang menggigil itu lagi. Yang ada hanya lengang. Sepi. Ibunya sudah pergi. Selama-lamanya. Tak kuasa menanggung lebih panjang penderitaam.
Gadis kecil itu menagis tersedu di depan tubuh ibunya yang sudah membeku. Menciumi wajah kaku ibunya. Berseru,”jagan tinggalkan aku sendiri… aku mohon, Ibu jangan pergi!”
Amat menyakitkan melihatnya. Dan lebih menyakitkan lagi saat melihat gadis kecil itu mendongak menatap langit yang gelap oleh badai. Dgadis itu jatuh terduduk bertanya ke kelamnya langit : mengapa dunia diciptakan dengan perbedaan? . mengapa manusia bangga sekali dengan perbedaan. Kasta. Kemuliaan. Yang satu lebih hebat, lebih dihargai, lebih segalanya, sementara yang lain tidak.
Menjelang pagi, gadis kecil itu  terhuyung keluar dari igloo. Ia tidak tahu hendak kemana. Ia sendiri, tanpa ayah, tanpa ibu. Memutuskan pergi… pergi dari perkampungan yang tidak pernah ia mengertinya. Pergi mencari jawab atas pertanyaanya. Tidak ada yang tau kemana gadis kecil itu pergi. Tidak ada. Ia hilang sejak pagi itu. Raib ditelan bumi.
Yang penduduk desa itu tau, sehari setelah kepergian gadis kecil itu, mendadak badai salju yang mengungkung desa mereka hampir setahun lenyap. Belum habis keterkejutan mereka, mendadak ditengah gelap gulita malam, seberkas cahaya indah mucul menghias angkasa. Itulah aurora.
Tarian cahaya yang sungguh indah,. Berpilin. Berpadu. Seperti sejuta pelangi. Memberiakan perasaan hangat dan nyaman bagi yang melihatnya. Menjadi penghibur di malam yang dingin dan senyap. Itulah aurora…
Sekarang kalian sudah tahu apa itu aurora??
Singkat amanat : 1. jadilah kalian orang yang bersimpati kepada tetangga/orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.
                          2. jangan pernah membeda-bedakan status orang lain.




Sumber : terinspirasi dari novel “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar